PERTAMA KALI NAIK KERETA
Writen By:
M. Abdil Bar
Faculty of Shari’a and Law’s Student

Bagi orang yang sudah sering atau biasa bepergian jarak jauh menggunakan moda transportasi, seperti Kereta Api –selanjutnya akan ditulis secara random dengan “kereta” atau “KA”-, mungkin tidak ada kesan istimewa yang ditinggalkan, karena hal itu dianggap sudah merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja. Tetapi, tidak bagi Aku. Bepergian dengan kereta merupakan pengalaman berharga dan meninggalkan kesan tersendiri, yang menarik untuk dibagikan kepada pembaca semua dalam tulisan ini. Apalagi bepergian tersebut merupakan pengalaman pertamaku menggunakan kereta.
Selama ini, kemanapun, baik itu jaraknya jauh atau dekat, Aku selalu bepergian menggunakan bis, mobil dan motor. Tidak pernah sama sekali Aku menggunakan kereta sebelumnya. Tapi, entah kenapa kemaren ketika pulang, Aku pakai kereta, tepatnya Rabu 5 September lalu. Aku pulang –sebentar- ke Probolinggo dari Jogja, menggunakan kereta yang berangkat sekitar jam 9 pagi, kalau tidak salah, nama kereta tersebut adalah kereta Logawa. Karena, hanya ada 2 kereta dengan tujuan Jogja – Probolinggo, yakni KA Sri Tanjung dan KA Logawa. KA Sri Tanjung berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 7 pagi, dengan tujuan akhir adalah Banyuwangi, sedangkan KA Logawa berangkat 2 jam berikutnya dari stasiun yang sama, yang tujuan akhirnya adalah Jember.  
Ini adalah pengalamanku pertama kali naik kereta, yang menurutku, berbeda sekali dengan naik bis yang biasa Aku gunakan ketika pulang dari atau balik ke Jogja. Perbedaan umum yang jelas terlihat dari keduanya –bis-kereta- adalah dari segi fasilitas dan segi ketepatan waktu, meskipun tidak menafikan tentang adanya kereta yang keberangkatan dan kedatangannya masih tidak sesuai dengan jadwal yang tertera di lembaran ticket. Tetapi hal itu tidak terlalu bermasalah, dibandingkan dengan ketika menggunakan bis.   
Menurutku, fasilitas dan ketepatan waktu tersebut di atas, bukanlah kesan mendalam dari pengalamanku naik kereta itu. Tetapi, yang paling berkesan bagiku adalah perjalanannya. Dalam kereta, Aku merasa menemukan hal baru yang tidak aku dapatkan di bis. Aku tidak mau melewatkan sedikit pun kesempatan untuk tidak melihat, memandang dan menatap pemandangan baru yang terlihat dari jendela gerbong. Aku sering berdiri berlama-lama di pintu gerbong hanya untuk melihat dan memandang pemandangan alam baru yang terlihat sepanjang perjalanan.
Aku menikmati pemandangan hamparan sawah luas yang hijau dan kuning dengan background pegunungan, sungai, bukit, perkampungan, perkotaan, jalan raya, hutan. Aku melihat para petani: ada yang sedang membajak sawahnya, ada yang sedang memanen tanaman padinya, dan ada yang sedang istirahat berteduh kepanasan di bawah pohon. Dan seketika terlintas dalam pikiranku, tanpa Aku tahu dan sadari “bagaimana kelak seandainya Aku seperti mereka?” “apakah Aku bisa menerima gaji rendah dengan ikhlas seperti mereka?” “jika Aku jadi petani, cukupkah istri dan anakku nanti dihidupi dari hasilnya?”.
Entah berapa banyak pertanyaan yang muncul terlintas dalam pikiranku waktu itu, kalau bukan karena salah satu pegawai kereta menawariku segelas Kopi Esspresso, mungkin pertanyaan–pertanyaan itu akan terus muncul dalam lamunanku, dan tentu Aku akan terus berdiri di pintu gerbong luar menghadap ke jendela.
Setelah tersadar dari lamunan tersebut, Aku...
To Be Continue....


0 Komentar