MATEMATIKA DALAM HIKMAH KEHIDUPAN
MATEMATIKA DALAM HIKMAH KEHIDUPAN
By : Salman Hudi
Mahasiswa Fisika UIN Sunan Kalijaga
Matematika merupakan suatu ilmu perhitungan pasti yang akrab dalam kehidupan manusia. Secara disadari atau tidak, dalam kesehariannya manusia selalu menerapkan ilmu ini, baik dalam teori secara kompleks atau pun sederhanya. Contoh ringannya adalah matematika penjumlahan atau pengurangan untuk menentukan usia seseorang. Misal; si Fulan lahir pada 1993, kini kita telah sampai pada angka tahun 2016, maka untuk mengetahui usianya adalah dengan mengurangi angka 2016 pada angka 1993, atau dengan menjumlah jumlah tahun yang telah berjalan sejak tahun 1993 sampai 2016. Tentu kedua cara tersebut akan mendapatkan satu jawaban yang sama, yaitu 23. Demikian juga dalam penentuan hari. Ketika seseorang menyebutkan nama hari secara disadari atau tidak sebenarnya ia sedang menerapkan aritmatika dasar dalam matematika, yang menerangkan bahwa hari ke 1 adalah Senin, hari ke dua adalah Selasa dan seterusnya. Dengan adanya keterkaitan yang solid antara matematika dengan kehidupan sehari-hari mestinya dapat dijadikan sebuah motivasi untuk banyak kalangan supaya mau berusaha memahami matematika lebih dalam lagi sehingga dapat dikembangkan dan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, seseorang tidak akan salah dalam mengambil kesimpulan dari berbagai premis-premis kehidupan.
Transaksi jual beli merupakan aktivitas sekaligus kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Baik kalangan usia anak-anak, remaja, dewasa, tua dan lansia semua pasti pernah bertansaksi, baik transaksi jual beli secara langsung maupun transaksi dengan media perantara seperti elektronik. Transaksi jual beli adalah hal urgen yang harus dilaksanakan secara teliti, sehingga tidak semua orang bisa melakukan transaksi dengan baik, matematika merupakan unsur yang terkandung didalamnya. Transaksi jual beli jelas membutuhkan materi matematika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti terjadinya penipuan atau salah perhitungan, maka memahami matematika menjadi kewajiban yang mutlak, sekalipun pemahaman tersebut hanya seputar matematika dasar saja.
Dalam hal religi pun matematika turut berperan. Misalnya, untuk mempertanggung jawabkan kehidupan kita di dunia pada kehidupan esok di akhirat, maka perlu diadakannya hisab atau perhitungan amal. Jelas, matematika menjadi ilmu yang diterapkan untuk menghitung dan membandingkan antara amal baik dan buruk seseorang.
Setiap mata pelajaran memiliki tokoh utamanya masing-masing. Dalam mata pelajaran yang sedang kita perbincangkan ini, angka dan bilangan menjadi dua tokoh utama yang sangat familiar. Sesuatu disebut angka apabila ia ditulis dalam bentuk angka, misal 5, ini adalah angka. Namun angka 5 tersebut dapat menjadi bilangan apabila ditulis menggunakan abjad, misalkan lima, ini adalah bilangan. Meskipun dua tokoh ini sering muncul didalam buku pedoman, kedua tokoh ini rupanya masih belum dikenal baik dikalangan para pelajar. Pasalnya definisi daripada angka dan bilangan masih belum banyak dimengerti dan dipahami.
Ok…
Untuk merubah mindset orang banyak tentang matematika yang konon super sulit, rumit, membosankan, saya disini tidak akan membahas soal materi matematika. Ada hal menarik dari matematika yang belum banyak diketahui oleh para pelajar pada khususnya dan oleh semua kalangan pada umumnya.
Seperti yang kita ketahui bahwa Allah tidak akan menciptakan apa pun kecuali bersamaan dengan dua hal atasnya, yaitu manfaat dan madharat. Diantara kedua itu ada hal
yang tidak semua orang mampu lihat, rasakan dan mendapatkan. Hal itu hanyalah akan diperoleh bagi orang-orang yang mau merenungkan setiap apa pun yang Allah ciptakan. Ada pun hal tersebut adalah apa yang orang sebut dengan rahasia atau hikmah. Behind the Math, rahasia dibalik matematika.
yang tidak semua orang mampu lihat, rasakan dan mendapatkan. Hal itu hanyalah akan diperoleh bagi orang-orang yang mau merenungkan setiap apa pun yang Allah ciptakan. Ada pun hal tersebut adalah apa yang orang sebut dengan rahasia atau hikmah. Behind the Math, rahasia dibalik matematika.
Matematika, meski ia banyak dibenci dan dihujat orang, dibalik diamnya ia menyimpan sejuta nasihat bagi orang-orang yang mau memahaminya. Kehidupan dunia yang persoalannya kian hari semakin kompleks, matematika sebagai satu ilmu memberikan banyak nasihat lebih dari sekedar makna manusia, tetapi kemanusiaan. Sebab di era modern kini hanya banyak dijumpai perkembangan human tanpa diimbangi dengan meningkatnya humanity. Akibat daripada itu kehidupan manusia kehilangan titik keseimbangannya.
Matematika menyimpan nasehat mutiara untuk manusia yang notabene seorang hamba. Sebagai makhluk yang diciptakan oleh yang Maha Sempurna, manusia seyogyanya tidak berlaku sombong. Tanpa disadari, Matematika menyimpan konsep tawadhu yang sangat baik
bagi manusia. Hal ini terbukti pada adanya bilangan bulat dan sistem pecahan suatu bilangan.
bagi manusia. Hal ini terbukti pada adanya bilangan bulat dan sistem pecahan suatu bilangan.
Pertama, konsep pada bilangan bulat. Bulat hanyalah suatu istilah untuk menamainya, bukan penggambaran dari wujudnya. Jadi, sekalipun namanya bulat, bukan berarti angka tersebut berwujud bulat melingkar. Maksud dari bilangan bulat disini adalah bilangan yang terdiri dari bilangan positif, nol dan bilangan negative. Bilangan positif yang tak terhingga rupanya memiliki jumlah yang sama dengan dengan bilangan negative, yang mana apabila dikalkulasikan jumlahnya sama dengan nol. Misal; empat (4) ditambah dengan negative empat (-4) hasilya adalah “NOL”. Hal ini apabila ditarik ke dalam diri manusia ternyata sama. Bilangan negatif diilustrasikan sebagai kelemahan atau kekurangan manusia, sedangkan bilangan positif diilustrasikan sebagai kelebihan atau skill seseorang. Apabila kekurangan dan kelebihan manusia disejajarkan maka kita dapat mengetahui hasilnya adalah “NOL”. Hal ini memberikan nasehat bahwa sesungguhnya manusia tidak ada apa-apanya. Sehebat-hebatnya manusia ia pasti memiliki sisi kekurangan. Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah juga ada tanah. Sungguh tidak ada hal yang dapat disombongkan dari diri seorang hamba. Kesempurnaan semata-mata hanya milik yang Maha Sempurna, Allah ‘azza wa jalla.
Kedua, yaitu pada sistem pecahan. Pecahan disini berbeda dengan makna kata pecah. Pada umumnya “pecah” lebih merujuk pada benda, misalnya kaca, piring, gelas. Sesuai dengan judul yang saya tuliskan, Behind The Math, maka pecahan yang diperbincangkan disini adalah pecahan bilangan dalam matematika. Konsep pecahan dalam matematika, misalnya suatu benda dianggap berbentuk kotak, lingkaran atau sembarang bentuk kemudian dibagi dibelah menjadi beberapa bagian. Pecahan dalam matematika umumnya dituliskan dalam bentuk pembagia (per) dengan lambing “/”, contoh; 4/5, empat perlima. Dalam pecahan yang demikian angka 4 dinobatkan sebagai pembilang, sedang angk 5 sebagai penyebut. Bentuk pecahan lain adalah pecahan desimal, misal; 0,5, nol koma lima. Ada juga pecahan campuran yang terdiri dari bilangan asli dan pecahan biasa, sebagai contoh empat, tiga per lima (4 3/5). Jika anda membaca tulisan saya dengan seksama, bagian ini tentu membuat ingatan anda kembali pada masa usia ketika duduk di bangku SD, SMP atau SMA. Materi yang demikian ini jelas sudah pernah anda telan matang-matang dari guru matematika. It’s Ok… Kali ini saya menerangkan materi berbeda dengan guru matematika anda dengan tema pembahasan yang sama. Menarik bukan, membaca angka matematika dengan sisi lain yang menjadikannya sebagi penasehat?
Anda juga pasti pernah mendapatkan soal semacam ini 0,5 + 4 3/5 – 4/5. Dilihat sepintas tampak rumit untu menemukan hasilnya. Ok… Lagi-lagi saya tidak akan menerangkan seperti halnya guru matematika SMP anda menjabarkan soal tersebut.
Bagaimana pun kita semua pasti tahu, bahwa untuk menyelesaikan soal tersebut kita perlu merubah pecahan menjadi pecahan biasa semua, entah itu pecahan campuran maupun pecahan desimal. Setelah itu baru kita jumlahkan dan kita ubah lagi ke dalam bentuk yang paling sederhana, itulah hasil akhirnya. Dengan demikian merampungkannya menjadi lebih mudah.
Dari cara penyelesaian soal tersebut dapat kita ambil suatu pelajaran yang cukup berharga. Untuk menanggapi segala macam fenomena kehidupan yang sangat dinamis, alangkah baiknya kita tidak memberikan respon yang over atau anak ABG sekarang bilang lebay. Respon yang demikian hanya akan membuat orang lain menjadi kurang atau bahkan tidak suka melihat kita. Kesenangan, kemenangan tidak perlu kita tampilkan dengan respon yang yang berlebihan sehingga menjadikan pada diri kita yang tampak adalah kesombongan. Demikian pula dengan kesedihan dan kekalahan, tidak perlu kita menampakkannya secara berlebihan sehingga orang-orang akan melihat kita nampak begitu melas dan kasihan. Sungguh, laku yang bisa akan mampu memberikan kesan luar biasa dan istimewa. Sebaliknya, laku yang luar biasa alias berlebihan malah-malah akan memberikan kesan jauh diluar dari apa yang diperkirakan dan diharapkan.
Persoalan matematika tersebut mengajarkan kepada kita supaya selalu menyelesaikan masalah dengan cara yang paling mudah dan tidak banyak beresiko. Persoalan matematika tersebut juga mengajarkan kepada kita supaya menanggapi kondisi selalu dengan sikap
yang wajar saja, sekalipun tampaknya persoalan tersebut amat sulit.
yang wajar saja, sekalipun tampaknya persoalan tersebut amat sulit.
Masihkah matematika seperti singa yang buas dan melata?
Untuk mencintai sesuatu yang sulit kita terima, kita perlu merubahn mindset kita, sehingga dalam hati tumbuh benih untuk mau mendekati dan memahaminya. Seperti halnya untuk merubah kehidupan kita, yang perlu dilakukan bukanlah merubah diri menjadi orang lain, merubah sikap dengan karakter orang lain, bukan. Untuk merubah kehidupan kita, kita hanya perlu merubah mindset kita. Selebihnya, seperti karakter dan yang lain, biar tumbuh apa adanya menjadi ciri khas pribadi kita. Jika lah harus dirubah, pastikan bahwa kau membawa pada arah yang lebh baik.

0 Komentar