KAU KUBUR AKU KEDUA KALINYA
Oleh: Ham

Apa bias cahaya di matamu sudah cukup bersaksi?
Apa  udara yang setiap pagi menyapamu itu sudah  cukup membela?
Jika tidak, maka untuk apa engkau selalu disampingku
Mematok dirimu sebagai hajatku?

Lantas apa kebisuanku cukup menghidupkan detak jantungmu?
Sehingga kamu mengerti
Gemuruh darah di dalam urat nadiku
Kau sandra menjadi budakmu!

Pikiran ini memang terlahir prematur
Berojol bersama jasadku yang kian keriput
Bersama seruput ampas kopi yang membatu buntu dalam bahasamu
Titik-titik ketawadluanku kau terjemahkan sebagai keangkuhan
Jeda diamku kau tafsirkan sebagai Siyung Brajadhenta
Dan pucak kebringasanku kau baca sebagai sang hyang adhama

Kau terbolak-balik mengartikan semuanya
Wong  nyatanya malah kau kubur aku kedua kalinya.

Kulon Progo, 08 Agustus 2018

1 Komentar